Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Awal Puasa Selisihnya kok cuma sehari? 7 hari Kek!

Setiap menjelang Ramadan, lini masa selalu gaduh. Ada yang sudah siap sahur lebih dulu, ada yang masih santai karena merasa belum waktunya. Lalu muncul celetukan khas: “Kok selisihnya cuma sehari? 7 hari kek biar dramatis!” Kalimat itu terdengar lucu, tapi di baliknya ada pertanyaan serius: kenapa awal puasa Ramadan kadang beda satu hari, dan kenapa hampir tidak pernah beda seminggu?

Awal Puasa Selisihnya kok cuma sehari? 7 hari Kek!
Selisih Satu Hari

Untuk Ramadan 1447 H tahun 2026, penetapan awal puasa memang menunjukkan dua tanggal yang berdekatan. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026 melalui sidang isbat—sebuah forum resmi yang menggabungkan perhitungan astronomi (hisab) dan pengamatan bulan sabit (rukyat).

Sementara itu, Muhammadiyah, dengan metode hisab dan kriteria kalender hijriah global yang mereka gunakan, menetapkan Rabu, 18 Februari 2026 sebagai awal Ramadan.

Selisihnya? Satu hari.

Kenapa cuma satu hari? Kenapa tidak tujuh?

Jawabannya sederhana tapi indah secara ilmiah: karena bulan itu patuh pada hukum fisika, bukan pada keinginan netizen.

Kalender Hijriah mengikuti siklus sinodis bulan—waktu yang dibutuhkan bulan untuk kembali ke posisi yang sama terhadap matahari dilihat dari bumi—sekitar 29,53 hari. Itu artinya satu bulan Hijriah hanya mungkin 29 atau 30 hari. Tidak ada opsi 35 hari. Tidak ada “bonus minggu dramatis”. Alam semesta tidak menyediakan fitur itu.

Perbedaan satu hari biasanya muncul karena perbedaan kriteria terlihatnya hilal—bulan sabit tipis setelah konjungsi (ijtimak). Ada yang menetapkan cukup secara perhitungan astronomi bahwa bulan sudah di atas ufuk, ada yang mensyaratkan ketinggian dan elongasi tertentu, ada pula yang menunggu laporan rukyat aktual di wilayah tertentu.

Di sinilah ilmu astronomi bertemu tradisi fiqh. Bukan pertarungan, melainkan perbedaan pendekatan terhadap data yang sama: posisi bulan dan matahari di langit.

Kalau kita bayangkan secara ekstrem—misalnya ingin beda tujuh hari—itu berarti salah satu pihak harus menganggap bulan belum masuk fase baru selama satu minggu penuh. Itu bertentangan dengan realitas orbital. Bulan tidak bisa “ditahan” supaya tetap fase lama. Gravitasi tidak mengenal kompromi sosial.

Justru selisih satu hari menunjukkan sesuatu yang sehat: semua pihak merujuk pada sistem astronomi yang sama, hanya berbeda dalam batas minimal visibilitas. Ini bukan soal benar-salah secara kosmik, melainkan soal metodologi.

Dan menariknya, perbedaan ini tidak pernah menyentuh esensi Ramadan itu sendiri. Puasa tetap dari fajar hingga maghrib. Spiritnya tetap pengendalian diri, empati sosial, dan pembaruan batin. Langit mungkin sedikit berbeda dalam hitungan jam, tapi makna tidak bergeser.

Kalau dipikir-pikir, perbedaan satu hari itu seperti variasi kecil dalam eksperimen ilmiah. Variabelnya beda tipis, hasilnya bergeser sedikit. Tetapi hukum dasarnya tetap kokoh.

Jadi ketika ada yang berseloroh, “7 hari kek!”, kita bisa tersenyum. Seminggu itu drama. Satu hari itu astronomi.

Dan di atas sana, bulan terus bergerak dalam kesunyian kosmiknya, tidak peduli timeline manusia. Kita yang belajar membaca geraknya—dengan teleskop, dengan perhitungan, dengan doa.

Post a Comment for "Awal Puasa Selisihnya kok cuma sehari? 7 hari Kek!"